Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono

CKG Berpotensi Cegah 1 dari 4 Kasus Stroke dan Kardiovaskular pada 2035, Dongkrak Angka Harapan Hidup Indonesia

Jakarta, 30 September 2026 – Pemerintah mengatakan manfaat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.

Pasalnya, melalui CKG, masyarakat dapat dengan mudah mengetahui gejala kedua masalah kesehatan tersebut sejak dini, sehingga penderita dapat mengendalikan faktor risikonya dengan cepat. Sebagai dampaknya, angka harapan hidup Indonesia pun akan membaik dalam jangka panjang.

“Jadi, manfaatnya (CKG) baru terasa di tahun 2035, tapi sudah kita mulai kerjakan dari sekarang. Jadi sampai 10 tahun nanti kita benar-benar akan merasakan manfaatnya,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam konferensi pers, Rabu (30/9).

Ia melanjutkan bahwa potensi tersebut didasarkan pada rekam medis peserta CKG tahun lalu, khususnya hipertensi dan gula darah, yang menjadi dua faktor risiko utama penyakit stroke dan kardiovaskular.

Dari segi pemantauan hipertensi, Kementerian Kesehatan pada tahun lalu menemukan bahwa sebanyak 6,81 juta peserta CKG terdiagnosis mengalami tekanan darah tinggi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,41 juta di antaranya kembali mengikuti CKG tahun ini.

Dari jumlah peserta yang kembali mengikuti CKG tersebut, Kementerian Kesehatan menemukan sebanyak 1,13 juta peserta, atau 46,9 persen, memiliki tekanan darah yang terkendali.

Sementara itu, dari segi pemantauan gula darah, Kementerian Kesehatan menemukan sebanyak 1,02 juta peserta CKG tahun lalu terdiagnosis diabetes melitus.

Sebanyak 340.117 peserta di antaranya kembali mengikuti CKG tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 235.895 peserta, atau 69,4 persen, kini telah memiliki gula darah yang terkendali.

Hal ini menunjukkan bahwa CKG memiliki peran penting bagi masyarakat dalam mengetahui kondisi kesehatannya, sehingga mereka dapat mengendalikan faktor risikonya sedini mungkin.

“Kalau kita bisa melakukan tata laksana lebih awal dari hipertensi, diabetes, dan kolesterol ini, maka kita bisa menjaga masyarakat masuk ke dalam sakit jantung dan pembuluh darah, seperti stroke dan sebagainya,” papar dia.

Ia mengatakan pengendalian risiko kesehatan sejak dini dapat menghindarkan masyarakat dari penyakit kronis dan pada akhirnya meningkatkan angka harapan hidup Indonesia.

Dante menyebut CKG diharapkan dapat membantu meningkatkan angka harapan hidup Indonesia menjadi 76 hingga 78 tahun, lebih tinggi dari kondisi saat ini yang rata-rata mencapai 71 hingga 72 tahun.

“Dan pada saat itu (2035) ada bonus demografi, di mana penduduk Indonesia akan mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih terjamin,” tambahnya.

CKG merupakan program pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan untuk mendeteksi dan menyediakan pengobatan dini bagi masalah kesehatan masyarakat. Per September 2026, program tersebut telah diikuti sekitar 99,1 juta peserta sejak diluncurkan pada Februari 2025.

Saat ini, Kementerian Kesehatan memfokuskan tata laksana pada tiga risiko kesehatan, yakni hipertensi, diabetes, dan dislipidemia, untuk menekan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian). Prioritas tersebut didasarkan pada masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada seluruh siklus hidup melalui CKG 2026.

Melalui deteksi dan penanganan secara dini, pemerintah juga berharap biaya pengobatan dapat ditekan karena penyakit dapat ditangani sebelum mencapai stadium akhir yang membutuhkan penanganan lebih intensif dengan biaya yang lebih besar.

Bagikan

Media Kit

Topik

Artikel Lainnya