Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan

Operasi Modifikasi Cuaca Dikerahkan, Karhutla di Papua Selatan Mulai Berkurang

Jakarta, 29 Oktober 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan jumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan terus menurun seiring dengan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) oleh pemerintah.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan pemerintah memfokuskan penanganan karhutla di empat kabupaten di Papua Selatan, yakni Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Total luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 161,5 hektare.

Untuk menangani karhutla, pemerintah telah melaksanakan 10 sorti OMC dengan menyemaikan 10.000 kilogram (kg) garam. Upaya tersebut berhasil memicu hujan di wilayah utara dan tengah Merauke, bagian selatan Boven Digoel, serta bagian selatan Mappi.

Seiring dengan upaya tersebut, jumlah titik panas berkurang signifikan, dari 295 titik pada Selasa (27/10) menjadi 65 titik pada Rabu (28/10).

“Saat ini bisa kami sampaikan, dari hari-hari sebelumnya turun signifikan titik api sebesar 78 persen. Tadinya titik api sebesar 295, saat ini kita dapati ada 65 titik,” kata Berton dalam konferensi pers, Kamis (29/10).

Ia mengatakan pemerintah akan terus mengoptimalkan OMC untuk menangani karhutla di Papua Selatan. Terlebih, hujan hingga saat ini belum terpantau di salah satu kabupaten, yakni Asmat.

“Tentu upaya-upaya tetap kami laksanakan untuk memadamkan api ini, sehingga nantinya Papua Selatan ini juga bebas dari api,” imbuhnya.

Menurut BNPB, hujan yang turun di Papua Selatan cukup merata dan meningkatkan jarak pandang dari 1–5 kilometer (km) menjadi 7–8 km. Kondisi ini diperkirakan terus membaik seiring dengan meningkatnya potensi pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Merauke Selatan, pada akhir pekan ini.

Meski demikian, BNPB mengingatkan bahwa ancaman fenomena El Niño yang kuat masih membayangi sebagian wilayah Papua. Kondisi tersebut, disertai angin kering, meningkatkan risiko kebakaran lahan di Papua Selatan.

“Dan tentu kami juga menyampaikan, El Niño saat ini sangat kuat dan Papua Selatan sangat rawan terbakar. Serta asap lintas batas dari Papua Nugini juga datang ke Papua Selatan,” jelas Berton.

Berton berharap pelaksanaan OMC dapat terus memicu hujan di wilayah Papua sehingga membantu menekan jumlah titik panas yang diperparah oleh fenomena El Niño.

“Kita berharap hujan ini pun akan tetap terjadi. Sehingga titik api baik itu yang ada di permukaan maupun yang ada di dalam permukaan, misalnya gambut, bisa teratasi dengan baik,” imbuh Berton.

Menurut data BNPB, pemerintah masih menangani total 462 hektare lahan yang terbakar di 10 provinsi terdampak, beberapa di antaranya meliputi Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Maluku.

Sementara itu, OMC juga terus dilaksanakan di sejumlah wilayah prioritas karhutla. Pada Rabu (28/10), misalnya, pemerintah mengerahkan 16 sorti OMC dengan menyemaikan es kering (dry ice) dan garam sebanyak total 22.600 kg di tiga provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.

Upaya tersebut membuahkan hasil berupa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah kabupaten/kota terdampak, seperti Kotawaringin Barat, Banjarmasin, dan Banjarbaru.

Bagikan

Media Kit

Topik

Artikel Lainnya